Minggu, 28 November 2010

Si Raja Fulus

Tiada Hari Tanpa Gayus

Sekitar tujuh bulan yang lalu namanya mulai banyak dibicarakan orang. Dari mulai masyarakat biasa, para politikus, pejabat sampai Pak Presiden pun angkat bicara. Dari mulai media massa, media elektronik sampai dunia maya pun ikut-ikutan berkomentar mengenainya. Dia hanyalah seorang PNS golongan IIIA yang bekerja sebagai Penelaah Keberatan Direktorat Jenderal Pajak. Gajinya setiap bulan ditambah dengan tunjangan sana sini "hanya" sekitar 12 jutaan. Tapi dengan gajinya itu, sekarang dia sudah menjadi PNS terkaya di Indonesia atau mungkin malah di dunia. Ya, dialah Gayus Halomoan Tambunan atau yang biasa kita kenal Gayus Tambunan, sang makelar kasus pajak.

Banyak orang menilai markus pajak oleh Gayus ini sudah selesai karena dia sudah berada di balik jeruji besi. Tapi tujuh bulan kemudian, si Raja Fulus kembali membuat namanya menjadi headline diseluruh media di Indonesia. Tiada hari tanpa Gayus. Mungkin itu ungkapan yang cocok untuk menggambarkan kondisi sekarang ini. Ya, gayus bikin ulah lagi, kali ini bukan karena penggelapan pajak yang dia lakukan seperti pada kasus sebelumnya, tapi karena ulahnya yang "kabur" dari tahanan Brimob Kelapa Dua. Dengan samarannya memakai rambut palsu dan kacamata, dia dengan santainya menonton pertandingan tenis di Bali. Cukup dengan 50 juta per bulan Gayus "membayar" para Pak Polisi dan dia pun bisa dengan mudahnya keluar masuk rutan. 

Pertanyaannya, mengapa Gayus melakukan itu semua? 
Mungkin Gayus ingin menunjukan bahwa betapa rapuhnya lembaga penegak hukum di negeri kita ini, dan sepertinya dia juga ingin menunjukan bahwa dia tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan para koruptor lain yang masih berkeliaran. Dalam urusan korupsi masih banyak aparatur negara ini yang lebih bobrok dibandingkan dirinya. Buktinya Gayus sudah mengakui bahwa uang yang dia terima adalah dari perusahaan-perusahaan besar yang kebanyakan dimiliki oleh pengusaha terkenal di negeri ini. 

Bukankah yang disuap dan yang menyuap sama saja harus dikenai hukuman? Tapi kenapa mereka yang menyuap dibiarkan bebas berkeliaran?  Sepertinya para penegak hukum tidak ada itikad untuk mengejar para pelaku suap itu. 

Apapun yang terjadi, uang memegang peranan penting dalam kasus ini. Uang adalah segalanya bagi orang-orang yang terlibat dalam kasus ini. Dan sepertinya uang sudah mengatur negara ini. Sekarang kita tinggal menunggu apakah masalah Gayus ini akan selesai sampai ke akarnya atau malah akan semakin banyak kasus Gayus-Gayus lainnya? Jika uang masih mengatur negara ini sepertinya kasus Gayus-Gayus yang lainnya akan semakin banyak. Kalau sudah begitu sepertinya ungkapan tiada hari tanpa Gayus pun akan berlanjut.

Rabu, 17 November 2010

Anak Jalanan

Siapa yang Peduli pada Mereka?


Mereka bukanlah siapa-siapa. Mereka hanyalah bagian dari kita yang kesulitan mencari sesuap nasi hanya untuk bertahan hidup. Mereka melakukan apa pun yang bisa mereka kerjakan hanya untuk mencari sesuap nasi setiap harinya. Itulah mereka....
Anak jalanan....
Mengamen, memulung, dan mengemis. Mungkin itu hanyalah beberapa hal yang dilakukan oleh para anak jalanan. Mereka yang seharusnya belajar dan bermain dengan teman-temannya, dengan terpaksa harus "bekerja" untuk mendapatkan sedikit uang. Mereka banyak yang hidup di sudut-sudut kota, jauh dari keramaian dan gemerlap kota. Tapi mereka harus menghadapi kejamnya kota untuk mencari uang dan bertahan hidup.
Sekarang ini rasanya semakin banyak anak-anak yang hidup di jalanan. Fenomena merebaknya anak jalanan di Indonesia ini merupakan salah satu persoalan sosial yang kompleks.Terkadang mereka menjadi sebuah "masalah" bagi masyarakat dan banyak pihak lainnya. Tapi bagaimana pun masalah ini janganlah dianggap sepele. Saat ini sudah banyak LSM yang peduli pada kondisi anak jalanan. Tapi bukan berarti dengan banyaknya LSM tersebut masalah sosial ini bisa diatasi. Bagaimanapun masalah ini harus ada campur tangan dari negara (khususnya pemerintah dalam hal ini). 
Pasal 34 ayat 1 UUD 1945 menyatakan "Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara". itu artinya pemerintah mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anak terlantar termasuk anak-anak jalanan. Tapi apakah pemerintah sudah melakukan tanggung jawabnya? Jika mereka mau sedikit saja meluangkan waktunya untuk menyelesaikan maslah ini, mungkin di setiap jalan yang kita lewati, kita tidak akan menemukan anak-anak yang mengamen, atau mengemis. Selain itu, kehidupan anak-anak itupun akan lebih baik lagi. Mungkin itu hanyalah sekedar harapan saja, karena kenyataannya tidak ada upaya yang serius dari pemerintah untuk menanggulangi masalah ini. Jika sudah begini siapa lagi yang akan peduli pada mereka, anak jalanan?
Hidup menjadi anak jalanan memang bukanlah pilihan yang menyenangkan. Tapi inilah hidup. Kita tidak selamanya bisa memilih, suka ataupun duka harus kita terima dengan sabar dan ikhlas.
Transparent Teal Star Multi-Colored Light Pointer